Laman

01 Desember 2015

metode riset



METODE RISET
ILMU DAN PENELITIAN
          Ilmu adalah pengetahuan tentang fakta, baik eksakta (natura) maupun sosial yang berlaku umum dan sistematik, sehingga dapat disimpulkan pernyataan-pernyataan (misalnya dalil) berdasarkan kaidah-kaidah umum. Ilmu selain merupakan himpunan pengetahuan yang sistematis, juga merupakan suatu metodologi, dalam hal ini ilmu telah memberikan metode dan sistem, serta membentuk kebiasaan, meningkatkan kemampuan melakukan observasi, eksperimen, klasifikasi, analisis dan generalisasi.
          Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu meningkatkan kemampuan berfikir secara logis yang disebut penalaran. Proses berfikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati yang lahir dari suatu keragu-raguan dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan yang kemudian berkembang menjadi masalah yang khas, yang dipecahkan melalui penyelidikan berdasarkan metode tertentu, sehingga kesimpulan tentatif dapat ditarik. Dengan demikian, proses berfikir logis (penalaran)  memiliki 2 (dua) unsur penting, yaitu : (1) Logis, dan (2) Analitis.
          Rasio atau fakta (data empiris) merupakan sumber utama penalaran. Pada hakekatnya berfikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif dan induktif yang berkaitan erat dengan rasionalisme dan empirisme. Induksi merupakan cara berfikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Sedangkan Deduksi merupakan cara berfikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus berdasarkan pernyataan yang bersifat umum. Dalam hal ini upaya inquiry/observasi/investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru, atau interpretasi (penafsiran) baru dari pengetahuan yang diperoleh, merupakan makna dari penelitian. Selengkapnya : Ilmu dan Penelitian
Support :
PROSES PENELITIAN
          Penyelidikan (inquiry) ilmiah dalam hypothetico-deductive model terdiri atas 2 (dua) aspek yang perlu diperhatikan yaitu (1) proses menyusun kerangka konseptual dan hipotesis, serta ; (2) desain yang meliputi perencanaan studi aktual, pengumpulan data dan analisis data. Proses penelitian diawali dengan pengamatan atas bidang/keluasan penelitian, pengumpulan data awal, mendefinisikan masalah, mengembangkan kerangka teoritis, dan menyusun hipotesis. Sementara itu, desain penelitian terdiri atas unsur penetapan tujuan studi, jenis investigasi, tingkat interferensi, konteks studi, unit analisis, teknik sampling, horison waktu, pengukuran dan ukuran, metode pengumpulan data, dan analisis data. Tahapan berikutnya adalah deduksi terhadap hasil pengujian hipotesis. Bila semua atau sebagaian besar hipotesis diterima, dan pertanyaan/masalah penelitian sepenuhnya terjawab, maka peneliti akan menulis laporan hasil penelitian, dan melakukan presentasi. Akhirnya manajemen dapat mengambil keputusan yang tepat berdasarkan hasil penelitian tersebut. Selengkapnya : Proses Penelitian
Support :
PENGAMATAN, PENGUMPULAN DATA AWAL, DAN BATASAN MASALAH
          Pengamatan yang berfokus kepada situasi tertentu merupakan upaya pengidentifikasian ruang lingkup  penelitian. Persoalan yang dapat diidentifikasi dapat berupa masalah yang sedang dihadapi dan memerlukan solusi, area/bidang/sistem yang memerlukan perbaikan, persoalan konseptual untuk mengerucutkan pemahaman atas fenomena tertentu, atau pertanyaan penelitian yang ingin dijawab secara empiris. Sementara itu pengumpulan data awal difokuskan kepada informasi yang bersifat umum, aspek struktural, dan respon (dalam bentuk persepsi, sikap, dan perilaku) manajemen/karyawan/client. Pengumpulan data mengenai nilai, struktur dan proses bermanfaat untuk mengungkapkan real problem, real issues, atau symptoms. Dengan demikian, masalah dapat dibatasi secara jelas, presisi dan ringkas. Selengkapnya : Proses Penelitian 1,2,3
Support : –
KERANGKA TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
          Kerangka teoritis merupakan model konseptual bagaimana teori/pengertian logis disusun untuk menghubungkan beberapa faktor yang diidentifikasi berkenaan dengan masalah penelitian. Konsep-konsep yang relevan diabstraksikan menjadi variabel yang merupakan bagian integral dari suatu keadaan/situasi dinamis yang diteliti. Inti dari kerangka teoritis adalah mendefinisikan variabel, menguraikan keterkaitan antar variabel, menjelaskan teori yang mendasari keterkaitan antar variabel, dan menggambarkan sifat dan arah keterkaitan antar variabel. Dugaan logis mengenai keterkaitan antara dua atau lebih variabel yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji secara empiris disebut hipotesis. Selengkapnya : Proses Penelitian 4,5
Support : –
DESAIN PENELITIAN
       Desain penelitian sebagai tahapan yang perlu dilakukan setelah merumuskan hipotesis, terdiri atas serangkaian pilihan pengambilan keputusan. Aspek-aspek dalam desain penelitian yang perlu diperhatikan adalah dalam menentukan tujuan studi, jenis penelitian/investigasi, tingkat interferensi, setting kajian, unit analisis, teknik sampling, menentukan horison waktu, menentukan pengukuran dan ukuran, pengumpulan data sampai analisis data.
          Desain penelitian secara umum perlu mempertimbangkan batasan waktu penelitian, biaya dan sumber daya lain yang akan dikorbankan, dan kemampuan peneliti itu sendiri. Oleh karena itu peneliti perlu mempertimbangkan faktor manfaat yang akan diperoleh dari pilihan-pilihan dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan unsur-unsur desain penelitian yang dimaksud. Selengkapnya : Desain Penelitian-Prs 6
Support : –
PENGUKURAN VARIABEL.
           Objek yang secara fisik dapat diukur dengan instrumen kalibrasi tidak memiliki masalah dalam pengukuran (misalnya : tinggi badan, ukuran meja, luas bangunan dll), atau hal mudah lain dalam pengukuran yang tidak bermasalah misalnya berkenaan dengan karakteristik demografi personal (misal : lama bekerja di perisahaan, jabatan sekarang, status marital dll). Masalah pengukuran akan menjadi rumit bila berkenaan dengan karakteristik yang bersifat abstrak (persepsi, sikap, perilaku). Masalah pengukuran variabel yang perlu diperhatikan adalah : (1)  Objektivitas dan ketelitian pengukuran, (2) Keakuratan pengukuran.
           Salah satu teknik untuk mereduksi pernyataan/konsep yang bersifat abstrak adalah mengabstraksikan konsep tersebut kedalam karakteristik/perilaku yang dapat diobservasi, yang disebut operasionalisasi konsep. Cara yang umum digunakan adalah dengan menetapkan dimensi (: karakteristik tipikal dari suatu konsep yang memiliki unsur-unsur yang dapat diukur), aspek/properti dari konsep tersebut, kemudian dijabarkan ke dalam unsur yang dapat diukur. Selengkapnya : Pengukuran Variabel -lock- dan Kesesuaian Pengukuran -lock-
Support : –
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
             Data dikumpulkan dari berbagai sumber dengan kategori data primer dan data sekunder. Data primer berkenaan dengan informasi (mengenai variabel yang diteliti) yang diperoleh dari tangan pertama (subjek yang diteliti, diskusi kelompok atau panel). Sementara data sekunder berkenaan dengan informasi (mengenai variabel yang diteliti) yang diperoleh dari pihak lain yang memiliki kompetensi untuk mengumpulkan, mengolah dan mempublikasikan informasi secara independen (misal : BI, BPS, Departemen/ Dinas/Badan/Lembaga spesifik, Bursa Efek, Penelitian Sebelumnya yang dipublikasikan, dll).
            Teknik pengumpulan data merupakan bagian integral dari desain penelitian, dan peneliti harus memiliki pengetahuan yang memadai mengenai prosedur dan instrumen pengumpulan data. Beberapa teknik (metode) pengumpulan data yang umum digunakan adalah : (1) Observasi ;  (2) Interview, dan ; (3) Kuesioner. Selengkapnya : Teknik Pengumpulan Data -lock-
Support : – Teknik Sampling -lock-
ANALISIS DATA.
Terdapat 4 (empat) langkah yang perlu diperhatikan dalam analsis data, yaitu : (1)  Mempersiapkan data untuk analisis, yang meliputi kegiatan : editing data, penanganan blank-responses, coding, Kategorisasi, dan data entry, ; (2) Menentukan Ukuran Gejala Pusat dan Dispersi (Rata-rata, Standar Deviasi, Distribusi Frekuensi dll), ; (3) Menentukan Kesesuaian Data (Uji Reliabilitas  dan Uji Validitas), dan ; (4) Uji Hipotesis, yang berkenaan dengan pemilihan alat dan teknik uji statistik secara tepat. Selengkapnya : (1) Teknik Analisis Data, -lock- dan ; (2) Laporan Hasil Penelitian. -lock-
https://tedirustendi32.wordpress.com/tedi-rustendi/metode-penelitian-bisnis/

Pengertian Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Hasil gambar untuk bahasa indonesia yang baik dan benar adalah

Berbahasa Indonesia yang baik adalah menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai konteks (pembicaraan atau penulisan). Berbahasa Indonesia yang benar adalah menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah (tata bahasa) bahasa Indonesia.
Pengertian di atas baru saya peroleh dan pahami ketika sudah semester tiga. Sebagai orang yang belajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tentu hal ini cukup mengecewakan. Dalam program studi ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami bahasa Indonsia (salah satunya adalah yang baik dan benar) tapi juga dituntut untuk mampu menularkan pengetahuan tentang bahasa Indonesia kepada orang lain (murid) melalui pembelajaran di sekolah.
Kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar sudah saya dengar dan baca sejak SD. Saat itu pula saya menggunakan istilah ini. Sejak itu sampai semester dua kuliah, saya mengartikan Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang tidak salah dalam menulis, harus sesuai dengan EyD. Lebih parahnya lagi, sebelumnya tidak mengerti kepanjangan EyD. Setelah mengetahui kepanjangan EyD belum paham pula kaidah apa saja yang ada dalam EyD. Pemahaman tentang sejarah EyD baru sedikit terisi ketika menempuh mata kuliah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, setelah tahun kedua kuliah. Pemahan tentang kaidah yang terdapat dalam EyD baru didapat setelah kuliah Analisis Kesalahan Berbahasa, tahun ketiga kuliah.
Apakah tidak pernah mendapat penjelasan mengenai bahasa yang baik dan benar ketika masih sekolah? Sepertinya tidak. Mungkin guru-guru bahasa Indonesia yang pernah mengajar saya tidak pernah menjabarkan pengertiannya, atau saya yang memang tidak memperhatikan penjelasan guru mengenai hal ini. Atau justru guru yang bersangkutan juga tidak paham mengenai berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini sangat mungkin terjadi, mahasiswa yang kuliah di PBSI masih kesulitan memahami konsep ini, bahkan salah seorang mahasiswa tidak mampu menjawab ketika ditanya mengenai konsep ini oleh dosen pembahas dalam seminar proposal skripsinya. Mahasiswa calon guru bahasa Indonesia dari universitas negeri tidak mampu menjawab, apalagi mahasiswa dari universitas lain, lebih apalagi lagi jika guru bahasa Indonsia di sekolah bukan lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia.
Mungkin kesalahan ada pada masing-masing kita. Bangsa Indonesia tidak mampu menghargai bahasanya sendiri. Mungkin terlalu menganggap remah keberadaan bahasa dan fungsinya. Padahal, di balik penggunaan bahasa, tampak seluruh dimensi kecerdasan dan mentalitas pengguna (pembicara)-nya.
Contoh Berbahasa Indonesia yang baik dan benar:
Loe ngerjain tugas sama siapa?
Kalimat di atas merupakan contoh kalimat yang baik dan benar, jika digunakan oleh seseorang dengan orang lain yang akrab dan sebaya. Menjadi tidak baik dan jelas tidak benar jika digunakan oleh mahasiswa kepada dosennya.
Yang baik belum tentu benar, dan yang benar belum tentu baik. Yang baik dan benar adalah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan hanya baik saja, bukan hanya benar saja, apalagi yang tidak baik dan tidak benar.

https://muntijo.wordpress.com/2013/03/27/pengertian-berbahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar/

PERILAKU SIKAP



Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu, sedangkan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar. 

Sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku. Selain itu, sikap atau attitude adalah suatu konsep paling penting dalam psikologi sosial. Pembahasan yang berkaitan dengan psikologi (sosial) hampir selalu menyertakan unsur sikap baik sikap individu maupun sikap kelompok sebagai salah satu bagian pembahasannya. 

Hubungan sikap dan perilaku pada mata pelajaran Perilaku konsumen yang saya pelajari di smester 5 ini mungkin untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen mempengaruhi sikap dan perilaku, ataupun sebaliknya sikap dan perilaku mempengaruhi perilaku konsumen. 

Menurut James F. Engel – Roger D. Blackwell – Paul W. Miniard dalam Saladin (2003 : 19) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu : 
  1. Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas. 
  2. Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
  3. Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian. 

A. DARI BUJUKAN HINGGA KOMUNIKASI

Berawal dari Stimulan yang merupakan masukan proses perilaku dibedakan atas rangsangan pemasaran dari pemasar dan rangsangan dari lingkungan konsumen itu sendiri. Sedangkan proses pengambilan keputusan dipengaruhi oleh faktor personal maupun sosial konsumen. Respons perilaku konsumen dapat dijadikan faktor yang dapat membentuk keputusan pembelian (yaitu pembelian selanjutnya) atau tidak melakukan pembelian (menolak produk yang ditawarkan).
Rangsangan pemasaran dari pemasar yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen yaitu seluruh kegiatan pemasaran yang meliputi bujukan hingga komunikasi mengenai produk tertentu yang ditawarkan. Para pemasar dapat melakukan kegiatan yang dapat dijadikan teknik modifikasi perilaku konsumen. Berbagai teknik modifikasi yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen adalah melalui beberapa aspek pemasaran yang meliputi aspek produk, aspek harga, dan aspek promosi.

B. TEKNIK MODIFIKASI PERILAKU


 Modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai: 
(1) upaya, proses, atau tindakan untukmengubah perilaku, 
(2) aplikasi prinsip-prinsip belajar yg teruji secara sistematis untukmengubah perilaku tidak adaptif menjadi perilaku adaptif, 
(3) penggunaan secara empiristeknik-teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku melalui 
penguatanpositif, penguatan negatif, dan hukuman, atau 
(4) usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia.
           
 Modifikasi perilaku juga menekankan pengaruh belajar dan lingkungan, artinya bahwa prosedur dan teknik tritmen menekankan pada modifikasi lingkungan tempatdimana individu tersebut berada, sehingga membantunya dalam berfungsi secara lebihbaik dalam masyarakat. Lingkungan tersebut dapat berupa orang, objek, peristiwa, atausituasi yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap kehidupanseseorang. Mengikuti pendekatan ilmiah artinya bahwa penerapan modifikasi perilakumemakai prinsip-prinsip dalam psikologi belajar, dengan penempatan orang, objek,situasi, atau peristiwa sebagai stimulus, serta dapat dipertanggungjawabkan secarailmiah. Sedangkan menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubahperilaku maksudnya bahwa dalam modifikasi perilaku lebih mengutamakan aplikasi darimetode atau teknik-teknik yang telah dikembangkan dan mudah untuk diterapkan.


Adapun teknik modifikasi perilaku adalah sebagai berikut :
1.      Dorongan (Prompting)
            Permintaan untuk melakukan suatu tindakan kepada seseorang.Barangkali setiap orang yang pernah memesan makanan di restoran fast-food pernah menjumpai dorongan.
2.      Teknik Banyak Permintaan BANYAK (Many asking)
            Mengajukan beberapa permintaan kepada konsumen dengan mengawalinya dari permintaan yang kecil lalu ke permintaan yang lebih besar. Atau sebaliknya, diawali dari permintaan besar kemudian diikuti oleh permintaan lebih kecil.Contoh: Menawarkan produk yang lebih mahal terlebih dahulu, kemudian menawarkan produk yang lebih murah.
3.      Prinsip Resiprositas (Reprosity)
            Teknik meningkatkan kepatuhan konsumen atas permintaan pemasar dengan lebih dahulu menawarkan orang bersangkutan sejumlah hadiah atau sample produk.
Contoh : Memberikan sample produk gratis, mencicipi produk, test drive dan sebagainya.
4.      Peran Komitmen (Committement)
            Komitmen yang dipegang secara konsisten akan meningkatkan jumlah pembelian. Komitmen yang tertulis akan dapat meningkatkan konsistensi dalam bertransaksi.Perusahaan penjualan door to door telah menemukan keajaiban komitmen tertulis. Mereka dapat mengurangitingkat pembatalan hanya dengan meminta pelanggan mengisi formulir perjanjian penjualan (sebagai tanda jadi.
5.      Pelabelaan (Labeling)
            Melibatkan pelekatan semacam gambaran pada seseorang, seperti “Anda Baik Hati”. Label diduga menyebabkan orang memandang diri mereka dengan cara yang disiratkan oleh labelnya. Pelabelan dapat digunakan oleh pemasar untuk menarikhati calon konsumen, sehingga pembelian terjadi.Pemasar pakaian dapat mengatakan, “Anda orang tua yang penuh perhatian.” di saat menawarkan pakaian untuk anak orang tersebut.
6.      Intensif (Insentif)
            Insentif mencakup jajaran luas alat-alat promosi, seperti korting harga, undian, rabat, kontes dan kupon. Insentif biasanya mewakili komponen penting dari keseluruhan strategi promosi produk.
Contoh : mainan anak pada produk makanan anak, cairan pewangi pada produk detergen dan sebagainya

SUMBER : http://balonquadalima.blogspot.co.id/2014/12/pengaruh-sikap-dan-perilaku-konsumen.html

KEPRIBADIAN NILAI DAN GAYA HIDUP




1.      KEPRIBADIAN
                     Kepribadian adalah karakteristik psikologis seseorang yang menentukan dan merefleksikan bagaimana seseorang merespon lingkungannya(Schiffman dan Kanuk,2000). Berdasarkan definisi ini maka bias disimpulkan bahwa yang ditekankan adalah karakter-karakter internal termasuk didalamnya berbagai atribut,sifat,tindakan yang membedakan dengan orang lain. Secara praktis konsep kepribadian dapat didefinisikan sebagai seperangkat pola perasaan,pemikiran dan perilaku yang unik yang menjadi standar respon konsumen untuk berbagai situasi.


Pola ini memiliki beberapa cirri khas yaitu :
1        Mencerminkan perbedaan individu
2        Konsisten
3        Psikologis dan fisiologi
4        Kepribadian dapat berubah
5        Kepribadian berinteraksi dengan situasi

Dimensi kepribadian :
·         Ekstraversi adalah suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang senang bergaul dan banyak bicara dan tegas.
·         Sifat menyenangkan adalah suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang baik hati, kooperatif dan mempercayai.
·         Sifat mendengarkan kata hati adalah suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang bertanggung jawab, dapat diandalkan, tekun dan berorientasi prestasi
·         Kemantapan emosional adalah suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang tenang, bergairah,terjamin (positif), lawan tegang, gelisah,murung dan tak kokoh (negative).
·         Keterbukaan terhadap pengalaman adalah suatu dimensi kepribadian yang emncirikan seseorang yang imajinatif, secara artistic peka dan intelektual.








2. NILAI-NILAI INDIVIDU

                    Nilai adalah ide umum tentang tujuan yang baik dan yang buruk. Dari alur norma atau aturan yang menjelaskan tentang yang benar atau yang salah, yang bisa diterima dan yang tidak. Beberapa norma dikatakan sebagai enacted norms, di mana maksud dari norma tersebut terlihat secara eksplisit, benar dan salah. Namun, banyak norma lain yang lebih halus, ini adalah crescive norm yang telah tertanam dalam budaya dan hanya bisa terlihat melalui interaksi antaranggota dalam budaya. Nilai-nilai budaya yang berlaku berbeda di setiap wilayah. Nilai yang berlaku di suatu Negara belum tentu berlaku di Negara atau bahkan bisa bertolak belakang dari nilai yang berlaku di Negara Untuk memahami pengertian nilai secara lebih dalam, berikut ini akan disajikan sejumlah definisi nilai dari beberapa ahli. “Value is an enduring belief that a specific mode of conduct or end-state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end-state of existence.” (Rokeach, 1973 hal. 5) “Value is a general beliefs about desirable or undesireable ways of behaving and about desirable or undesireable goals or end-states.” (Feather, 1994 hal. 184) “Value as desireable transsituatioanal goal, varying in importance, that serve as guiding principles in the life of a person or other social entity.” (Schwartz, 1994 hal. 21) Schwartz mengemukakan teori bahwa nilai berasal dari tuntutan manusia yang universal sifatnya yang direfleksikan dalam kebutuhan organisme, motif sosial (interaksi), dan tuntutan institusi sosial (Schwartz & Bilsky, 1987). Ketiga hal tersebut membawa implikasi terhadap nilai sebagai sesuatu yang diinginkan. Schwartz menambahkan bahwa sesuatu yang diinginkan itu dapat timbul dari minat kolektif (tipe nilai benevolence, tradition, conformity) atau berdasarkan prioritas pribadi / individual (power, achievement, hedonism, stimulation, self-direction), atau kedua-duanya (universalism, security).  Nilai individu biasanya mengacu pada kelompok sosial tertentu atau disosialisasikan oleh suatu kelompok dominan yang memiliki nilai tertentu (misalnya pengasuhan orang tua, agama, kelompok tempat kerja) atau melalui pengalaman pribadi yang unik (Feather, 1994; Grube, Mayton II & Ball-Rokeach, 1994; Rokeach, 1973; Schwartz, 1994). Nilai sebagai sesuatu yang lebih diinginkan harus dibedakan dengan yang hanya ‘diinginkan’, di mana ‘lebih diinginkan’ mempengaruhi seleksi berbagai modus tingkah laku yang mungkin dilakukan individu atau mempengaruhi pemilihan tujuan akhir tingkah laku (Kluckhohn dalam Rokeach, 1973). ‘Lebih diinginkan’ ini memiliki pengaruh lebih besar dalam mengarahkan tingkah laku, dan dengan demikian maka nilai menjadi tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.

Sebagaimana terbentuknya, nilai juga mempunyai karakteristik tertentu untuk berubah. Karena nilai diperoleh dengan cara terpisah, yaitu dihasilkan oleh pengalaman budaya, masyarakat dan pribadi yang tertuang dalam struktur psikologis individu (Danandjaja, 1985), maka nilai menjadi tahan lama dan stabil (Rokeach, 1973). Jadi nilai memiliki kecenderungan untuk menetap, walaupun masih mungkin berubah oleh hal-hal tertentu. Salah satunya adalah bila terjadi perubahan sistem nilai budaya di mana individu tersebut menetap (Danandjaja, 1985).


3. KONSEP GAYA HIDUP DAN PENGUKURANNYA
Gaya hidup adalah suatu pola atau cara individu mengekspresikan atau mengaktualisasikan, cita-cita, kebiasaan / hobby, opini, dsb dengan lingkungannya melalui cara yang unik, yang menyimbolkan status dan peranan individu bagi linkungannya. Gaya hidup dapat dijadikan jendela dari kepribadian masing-masing invidu.Setiap individu berhak dan bebas memilih gaya hidup mana yang dijalaninya, baik itu gaya hidup mewah (glamour), gaya hidup hedonis, gaya hidup punk, gaya hidup sehat, gaya hidup sederhana.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup
Menurut pendapat Amstrong  gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.Lebih lanjut Amstrong  menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal).

Faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi dengan penjelasannya sebagai berikut :

a.Sikap. Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya.
b.Pengalaman dan pengamatan. Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat membentuk pandangan terhadap suatu objek.
c.Kepribadian. Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.

Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut :
Kelompok referensi. Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan kelompok yang memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana individu tidak menjadi anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.
Keluarga. Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku individu.Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.
Kebudayaan. Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri pola pikir, merasakan dan bertindak.
Psikografik adalah pengukuran kuantitatifgaya hidup, kepribadian dan demografik konsumen. Psikografik sering diartikan sebagai pengukuran AIO (activity, interest, opinions), yaitu pengukuran kegiatan, minat dan pendapat konsumen. Psikografik memuat beberapa pernyataan yang menggambarkan kegiatan, minat dan pendapat konsumen. Pendekatan psikografik sering dipakai produsen dalam mempromosikan produknya, seperti yang dinyatakan oleh Kotler bahwa psikografik senantiasa menjadi metodologi yang valid dan bernilai bagi banyak pemasar. Solomon menjelaskan studi psikografik dalam beberapa bentuk seperti diuraikan berikut :

Profil gaya hidup (a lifestyle profile), yang menganalisis beberapa karakteristik yang membedakan antara pemakai dan bukan pemakai suatu produk.
Profil produk spesifik (a product-specific profile) yang mengidentifikasi kelompok sasaran kemudian membuat profil konsumen tersebut berdasarkan dimensi produk yang relevan.
Studi yang menggunakan kepribadian ciri sebagai faktor yang menjelaskan, menganalisis kaitan beberapa variabel dengan kepribadian ciri, misalnya kepribadian ciri yang mana yang sangat terkait dengan konsumen yang sangat memperhatikan masalah lingkungan.
Segmentasi gaya hidup (a general lifestyle segmentation), membuat pengelompokkan responden berdasarkan kesamaan preferensinya.
Segmentasi produk spesifik, adalah studi yang mengelompokkan konsumen berdasarkan kesamaan produk yang dikonsumsinya.

4. PENGUKURAN GANDA PERILAKU INDIVIDU

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku individu terhadap pengambilan keputusan konsumen :

sikap orang lain
Faktor situasi tak terduga
Konsumen mungkin membentuk kecenderungan pembelian berdasar pada pendapatan yang diharapkan, harga, dan manfaat produk yang diharapkan.

Ada 5 tahap proses pengambilan keputusan pembelian terdiri dari :
1.Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian bermula dari pengenalan kebutuhan (need recognition)-pembelian mengenali permasalahan atau kebutuhan. Pembeli merasakan adanya perbedaan antara keadaan aktual dan sejumlah keadaan yang diinginkan.
2.Pencarian Informasi
Konsumen yang tergerak mungkin mencari dan mungkin pula tidak mencari informasi tambahan. Jika dorongan konsumen kuat dan produk yang memenuhi kebutuhan berada dalam jangkauannya, ia cenderung akan membelinya.
3.Pengevaluasian Alternatif
Cara konsumen memulai usaha mengevaluasi alternatif pembelian tergantung pada konsumen individual dan situasi pembelian tertentu. Dalam beberapa kasus, konsumen menggunakan kalkulasi yang cermat dan pikiran yang logis.
4.Keputusan Pembeli
Tahap pengevaluasian, konsumen menyusun peringkat merek dan membentuk kecenderuangan (niat) pembelian. Secara umum, keputusan pembelian konsumen akan membeli merek yang paling disukai, tetapi ada dua faktor yang muncul diantara kecenderungan pembelian dan keputusan pembelian.
5.Perilaku Setelah Pembelian
Pekerjaan pemasar tidak hanya berhenti pada saat produk dibeli. Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas dan akan masuk ke perilaku setelah pembelian yang penting dip
erhatikan oleh pemasar.

SUMBER : http://sintarahmawaty.blogspot.co.id/2015/11/kepribadian-nilai-dan-gaya-hidup.html